Cerpen - Sandal Butut
SANDAL BUTUT Karya : Umi Fadilah “Setan! Sandalku ilang meneh!” teriak Bagus sambil melotot. “Astagfirullah, nyebut, Gus!” titah Mufidz, teman Bagus. Napas Bagus naik turun, tampak jelas jika saat ini wajahnya dipenuhi amarah. “Sandalmu hilang lagi, Gus?” tanya Zidan, teman seperantauan Bagus dan Mufidz. Berbeda dengan Bagus dan Mufidz yang berasal dari Jawa, Zidan berasal dari Jakarta. Mereka bertiga merupakan teman satu kontrakan yang tengah beradu nasib di Bandung, tepatnya sebagai pelayan di sebuah cafe. “Ora umum! Wulan puasa ngene kok esih seneng nyolong, to!” pekik Bagus. “Yaelah, cuma sandal butut aja kok, Gus. Bisa beli lagi, ‘kan?” Dengan mudahnya Zidan berkata. “Nah itu yang aku bingung, Dan. Kok malingnya lebih suka ngambil sandal bututku daripada sandal mahalmu yang harganya bisa buat beli dua kaos,” ucap Bagus dengan nada yang masih tidak terima. “Yo wes, Gus. Pake sandalku aja, ini.” Mufidz melepas sandalnya dan memberikannya kepada Bagus. “Ngga...